“Organ reproduksi perempuan sangat rentan terjangkiti penyakit.  Salah satunya, kanker indung telur, penyakit yang sampai saat ini sulit didiagnosa karena nyaris tanpa gejala sehingga  penderita sering terlambat ditangani. Selain itu masih banyak penyakit lain yang menyerang organ reproduksi. Untuk mengetahui apa saja ’’The Silent Lady Killer’’, Gaia mengajak Anda untuk berbincang dengan Dr. Mirza T. Iskandar, SpOG (K), dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, mengenai kista dan kanker indung telur.”

Apa saja penyakit kanker yang sering mengancam kaum perempuan?

Kita perlu memahami banyak penyakit  ganas yang sering  menyerang kaum perempuan, mulai dari kanker payudara, kanker mulut rahim, kanker rahim, dan kanker indung telur.

Umumnya orang awam masih sulit membedakan tumor dan kanker. Juga  pemahaman  tentang  kandungan dan indung telur . Untuk tumor kandungan, perlu pemahaman untuk mengetahui secara saksama di mana lokasi tumor berada.

Apakah yang dimaksud dengan kista?

Kista adalah satu benjolan yang berisi cairan. Kista indung telur adalah benjolan berisi cairan yang berasal dari indung telur. Karena berisi cairan maka konsistensinya menjadi kistik.  Kalau yang disebut dengan kistoma ovari adalah jika indung telur yang membesar lebih dari 10 cm dan berisi cairan. Namun tidak semua pembesaran indung telur disebut dengan kistoma, karena ada gradasi dari ukuran-ukurannya tersebut.

Perbedaan dengan mioma?

Mioma uteri  adalah pembesaran otot-otot rahim sehingga konsistensinya padat. Sedangkan kista asalnya bukan otot rahim tetapi dari pembesaran sel ovarium atau sel telur  berisi cairan dengan konsistensi kistik.

Apakah setiap kista menunjukkan tanda ketidaknormalan?

Tidak. Ada kista fungsional, yaitu  pembesaran indung telur biasanya berukuran di bawah 4 cm. Pada saat masa subur pada semua perempuan muncul kista fungsionalnya. Jadi kista fungsional merupakan pembesaran indung telur yang terjadi karena fungsi hormonal sedang bekerja maksimal. Secara fisiologis kista fungsional ini ‘reversible’ atau bisa kembali ke ukuran normalnya. Kista yang tidak normal adalah yang sudah berukuran lebih dari 8 cm.

Tanda-tanda seseorang memiliki kista di indung telur?

Umumnya tidak ada tanda. Gejala biasanya baru muncul ketika kista sudah membesar dan mengakibatkan penekanan organ-organ yang lain, misalnya menekan kandung kencing, maka pasien akan mengalami gangguan  misalnya sering kencing atau sulit menahan kencing.. Namun pada kista karena infeksi, biasanya disertai dengan rasa nyeri.

Apakah kista hanya bisa ditangani dengan operasi?

Untuk menangani kista indung telur, kita mesti melihat usia pasien. Jika memang pasien memang sudah tidak memerlukan lagi sistem reproduksinya maka lebih baik diangkat saja (dioperasi). Namun jika pasien masih memerlukan sistem reproduksinya maka dapat dilakukan terapi selama 3 bulan. Jika dalam 3 bulan tidak ada pengecilan ukuran kista, maka tetap disarankan untuk operasi. Jadi prinsipnya jangan terburu-buru untuk melakukan tindakan penganagkatan kecuali jika terdapat tanda-tanda keganasan.

Seperti apakah terapi yang dilakukan?

Terapi konservatif atau menggunakan obat-obatan. Pasien juga disarankan untuk mengurangi aktivitas fisik, terutama yang berhubungan dengan otot panggul. Terapi konservatif ini berlaku untuk perempuan yang masih memerlukan fungsi reproduksinya, misalnya masih ingin punya anak. Namun jika pasien sudah memasuki usia kepala empat sebaiknya langsung diangkat saja. Tentu saja dampaknya bila kedua indung telur diangkat, pasien akan mengalami menopause yang lebih awal.

Apa penyebab terjadinya kista?

Penyebab kista yang terbanyak adalah karena faktor hormonal. Indung telur memiliki lapisan epitel dan lapisan germinativum/ medulla. Nah, tergantung lapisan mana yang akan dipacu oleh hormonal untuk membesar. Biasanya yang sering terjadi adalah pembesaran pada lapisan epitel yang disebut dengan jenis kista epithelial.

Ada pula kista yang disebabkan oleh infeksi. Untuk kasus kista karena infeksi relatif lebih mudah penanganannya. Biasanya dapat diatasi dengan penanganan 3 bulan terapi konservatif. Banyak pasien yang ukuran kistanya berhasil mengecil dengan terapi ini.

Hanya mengecil, artinya bisa tumbuh besar lagi?

Selama masih memiliki indung telur maka setiap perempuan yang pernah  terjangkiti kista, masih berkemungkinan terjangkiti kista kembali.

Bagaimana mengetahui kista itu merupakan jenis jinak maupun ganas?

Kistoma ovarium/ kista indung telur adalah pembesaran indung telur yang bersifat neoplastik dengan konsistensi kistik. Neoplastik, maknanya sewaktu-waktu bisa berubah menjadi ganas. Beberapa tanda neoplastik  atau keganasan antara lain,

  1. Jika kista muncul di kedua indung telur (kiri dan kanan)
  2. Ada bagian-bagian yang padat di dalam kista tersebut. Sebagian padat dan sebagian kistik (cair). Dapat diketahui melalui pemeriksaan USG.
  3. Penurunan berat badan pasien
  4. Pembesaran kista yang cepat
  5. Ada asites, dalam pemeriksaan USG diketahui ada cairan dalam rongga perut
  6. Pemeriksaan Resistensi Indeks dengan USG. Pemeriksaan ini untuk menilai resistensi indeks tumor.
  7. Munculnya rasa nyeri
  8. Perlengketan daerah kista dengan organ sekitarnya.

Dari semua tanda ini kemudian dibuatlah penilaian untuk menentukan kemungkinan jinak atau ganasnya kista. Pengelolaan kista jinak dan ganas itu berbeda. Dari pihak dokter pun  sebaiknya dalam menangani pasien dengan kista, tidak terburu-buru menentukan operasi.

Mengapa Kistoma Ovari disebut sebagai the silent lady killer?

Kistoma ovari sering disebut sebagai the silent lady killer karena sampai sekarang tingkat keganasannya tinggi sedangkan tingkat kesembuhannya rendah. Oleh karena itu tindakan operatif harus optimal. Kistoma ovari pada tahap awal, tidak menimbulkan gejala. Jadi seringkali ditemukan sudah menjadi kanker indung telur stadium lanjut. Berbeda dengan kanker serviks (leher rahim) yang memiliki gejala khas, dan telah memiliki cara pemeriksaan dini seperti papsmear atau IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat). Kanker indung telur karena tidak memiliki gejala khas, maka sering terlambat diketahui.

Bagaimana cara mendeteksi kista?

Bisa dengan pemeriksaan dalam vagina, namun akan lebih jelas terlihat melalui USG (ultrasonografi), juga pemeriksaan petanda tumor di mana  cara pemeriksaannya dengan pengambilan darah pasien.

Siapa yang sebaiknya melakukan pemeriksaan tersebut?

Hal ini berhubungan dengan perawatan sistem reproduksi. Maka tiap perempuan terutama yang sudah menikah atau berhubungan seksual, disarankan satu tahun sekali memeriksaan diri. Tidak hanya periksa pap smear, namun pemeriksaan untuk seluruh organ reproduksi. Dokter memegang peranan penting untuk memberikan informasi dan saran kepada pasien mengenai pemeriksaan ini. Meski demikian, mungkin saja tidak semua perempuan bersedia diperiksa. Namun jika sering ada keluhan nyeri perut bawah, dan keputihan, sebaiknya lebih intensif memeriksaan kesehatan reproduksinya.

Faktor lain yang turut memicu terjadinya kanker indung telur?

Pemakaian talk (bedak tabur), disinyalir memacu terjadinya kista. Misalnya pemakaian talk pada bayi.Ada kebiasaan setelah buang air biasanya bayi diberikan talk, terutama pada bayi-bayi perempuan. Juga talk pada sarung tangan operasi disinyalir juga menjadi pemicu terjadinya kista. Hanya sampai sekarang belum ditemukan apa zat dalam talk yang memicu kanker. Talk bukan merupakan penyebab namun predisposisi atau pemicu kista yang dapat berkembang ganas menjadi kanker indung telur.

Adakah makanan yang memicu kanker indung telur?

Makanan tidak secara langsung menyebabkan kista. Namun seperti kita ketahui proses kanker dipengaruhi oleh: virus, sinar, dan zat kimia. Bila seseorang sudah memiliki kista dalam tubuhnya dan dia mengonsumsi makanan yang mengandung bahan-bahan kimia, maka akan mempermudah kista menjadi ganas.

Ketika operasi, apakah yang diangkat hanya indung telur saja?

Setiap perempuan yang menderita kista dan dinyatakan operasi oleh dokter maka harus siap mental juga kalau rahimnya ikut diangkat. Karena baru pada saat operasi, tumor bisa secara pasti diperiksa sifatnya. Tumor itu kan bersifat neoplasma, jadi bisa jinak atau ganas. Kalau ternyata ganas dan jika sang pasien sudah tidak menginginkan sistem reproduksi maka sebaiknya semua diangkat. Tidak hanya indung telur, tapi juga rahim, jaringan omentum (pelindung usus), kelenjar limfe juga diangkat. Hal ini juga dipengaruhi oleh stadium keganasannya. Jika masih stadium  awal (1A misalnya), pasien masih ingin sistem reproduksinya, sebaiknya dipertahankan, masih ada celah untuk operasi konservatif. Tapi kalau sudah masuk  stadium lanjutan 1C, maka sebaiknya diangkat semua organ yang sekiranya rawan untuk penyebaran kanker.

Bagaimana menentukan stadium kanker indung telur?

Secara klinis tidak bisa ditentukan, stadium ditentukan saat dokter melakukan operasi. Jadi dokter tidak bisa mengatakan di luar operasi. Hal ini berbeda dengan kanker serviks yang stadiumnya bisa ditentukan dengan pemeriksaan klinis.  Dikatakan stadium 1A jika kanker hanya terdapat pada satu indung telur dan permukaan tumor belum pecah.

Adakah kendala dalam penanganan kanker indung telur ini?

Kendalanya adalah tidak semua daerah memiliki peralatan untuk mendeteksi kista jinak atau ganas, selama tengah berlangsung operasi. Kalau kota-kota besar biasanya punya metode pemeriksaannya, yaitu dengan Frozen Section (potong beku. Dengan bantuan dokter patologi anatomi, kita bisa melakukan operasi dengan alat ini. Saat dokter menilai kalau kanker ganas maka semua harus diangkat. Nah, penjelasan inilah yang harus diberikan kepada pasien sebelum operasi. Tapi kalau memang pasien keberatan, pasien juga berhak untuk menolak dengan menandatangani berkas perjanjian tindakan yang menyatakan bahwa pasien tidak bersedia rahimnya diangkat

Repotnya jika di daerah yang tidak memiliki alat pendeteksi kista, bisa terjadi dua kali operasi. Hal ini sering kali diartikan oleh orang awam bahwa dokter melakukan kesalahan. Padahal tidak, karena dokter tidak  memiliki fasilitas penunjang pendeteksi keganasan kista tersebut. Ini berkaitan dengan under treatment dan over treatment. Under treatment adalah terlanjur tidak dilakukan pengangkatan rahim padahal kista tersebut ganas. Sedangkan over treatment adalah jika sudah terlanjur mengangkat rahim padahal kista tersebut jinak.

Apa hal yang perlu diwaspadai perempuan sehubungan dengan kista dan kanker indung telur?

  1. pemeriksaan organ reproduksi secara berkala
  2. Jika dinyatakan memiliki kista jangan langsung cemas. Karena ada syarat-syarat pemeriksaan untuk menentukan apakah kista tersebut jinak atau ganas.
  3. Bila memang harus dioperasi, persiapkan mental. Percayalah pada dokter yang menangani bahwa yang diangkat adalah organ-organ yang sekiranya potensial untuk penyebaran
  4. Juga bagi rekan-rekan dokter spesialis kandungan dan kebidanan, sebaiknya hindari terlalu cepat untuk menentukan operasi pada penderita kista yang masih kecil.

Kista dan kanker indung telur bisa datang tanpa gejala. Ayo sayangi tubuh Anda, jangan malas periksa organ reproduksi Anda secara berkala. (mih)

www.gaia-magazine.com


Kemaluan wanita alias Miss V / Vagina harus dijaga kelembabannya agar tidak terlalu basah. Sehabis buang air kecil misalnya vagina harus dijaga agar tetap kering. Kenapa harus begitu?

Vagina merupakan salah satu organ tubuh yang sensitif sehingga harus dijaga kebersihan dan kelembabannya. Jika terlalu basah maka akan memicu infeksi dan tempat berkumpulnya bakteri.

Setiap perempuan memiliki vagina yang unik, meskipun ditemukan beberapa karakteristik yang umum. Vagina juga memproduksi cairan sebagai respons terhadap gairah seksual dan aktivitas fisik. Selama cairan tersebut tidak berubah warna dan tidak berbau maka hal ini adalah normal.

Untuk menjaga kebersihan dan kesehatan vagina, sebaiknya perempuan harus menjaga agar daerah vulva dan juga vaginanya tetap bersih dan kering. Hal ini untuk menghindari terjadinya infeksi pada vagina, seperti dikutip dari Womenshealth.about, Senin (18/4/2011).

Lingkungan sekitar vagina yang lembab bisa menyebabkan bakteri dan jamur yang ada tumbuh dengan pesat, karena kondisi itu merupakan lingkungan yang ideal bagi jamur dan bakteri untuk berkembang biak. Jika hal ini terus menerus dibiarkan bisa menyebabkan infeksi lebih lanjut.

Infeksi yang paling sering terjadi disebabkan oleh jamur Candida albicans yang biasanya ditandai dengan keluhan keputihan, rasa gatal di daerah bibir vagina, rasa sakit serta seperti terbakar ketika buang air kecil.

Selain itu dengan menjaga vagina tetap kering dan bersih akan membuat ekosistem alami yang ada di vagina tetap terjaga, sehingga bakeri baik lactobacillus akan tumbuh subur yang membuat infeksi bisa dicegah.

Untuk menjaga agar daerah kewanitaan ini tetap bersih dan kering, ada beberapa hal yang bisa dilakukan yaitu:

  1. Membersihkan vagina dengan menggunakan air mengalir dari depan ke belakang baik setelah buang air kecil atau buang air besar, hal ini untuk mencegah bakteri dari anus masuk ke vagina.
  2. Keringkan daerah vagina dan sekitarnya dengan menggunakan tisu atau handuk kecil, dan mengganti celana dalam jika terasa lembab atau basah.
  3. Gunakan pakaian yang tidak terlalu ketat terutama di bagian daerah selangkangan karena bisa memicu keringat berlebih.
  4. Gunakan celana dalam dari bahan katun karena menyerap keringat dengan baik dan hindari bahan nilon karena bisa mengurangi aliran udara ke daerah vagina. Serta gantilah celana dalam minimal 2 kali sehari.
  5. Mengganti pakaian renang atau basah akibat keringat setelah berolahraga secepat mungkin.
  6. Mengganti pembalut secara teratur selama menstruasi, pilihlah pembalut yang tidak menyebabkan iritasi.
  7. Jika memang terpaksa harus menggunakan patyliner sebaiknya tidak dipakai seharian, karena bisa meningkatkan kelembaban yang berpotensi bagi jamur untuk berkembang biak. Serta pilihlah pantyliner yang tidak mengandung parfum.

Rekomendasi Produk Dr. Boyke : Tisu Majakani . Info dan Order di http://facebook.com/abewanita

www.detik.com


Perubahan hormon yang fluktuatif saat mendekati siklus menstruasi diduga kuat menjadi pemicu jerawat setiap bulan pada beberapa perempuan. Bagaimana mencegah timbulnya jerawat sebelum menstruasi?

Dr Alan Shalita dalam Journal of the American Academy of Dermatology tahun 2001 menuturkan jerawat yang timbul sebelum menstruasi adalah akibat adanya lonjakan hormon yang terjadi setiap siklus bulannya.

Dr Shalita melakukan studi terhadap 400 perempuan berusia 12-52 tahun, didapatkan sekitar 40 persennya memiliki jerawat sebelum menstruasi dengan angka kejadian paling sering pada perempuan berusia 33 tahun atau lebih.

Dampak dari siklus ini tidak hanya ditandai dengan jumlah luka yang ada pada kulit, tapi juga adanya peradangan. Pada hari ke 22-28 dari diklus bulanan terjadi peningkatan peradangan jerawat sekitar 25 persen dan lesi pada kulit meningkat lebih dari 20 persen. Kondisi ini setelah dibandingkan dengan hari ke 1-7 dari siklus bulanan.

Dikutip dari Acne.about.com, Selasa (29/6/2010) jerawat sebelum menstruasi adalah nyata dengan beberapa studi melaporkan kondisi ini mempengaruhi hingga 78 persen perempuan dewasa. Namun sebenarnya kondisi ini bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan atau bisa membuat seseorang menderita.

Terdapat berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi jerawat sebelum menstruasi. Salah satunya adalah dengan menggunakan obat-obatan atau lotion yang bisa digosokkan ke kulit. Selain itu rajin membersihkan muka juga bisa menjadi cara untuk mencegah datangnya jerawat.

Bagi masyarakat yang takut untuk menggunakan produk-produk antiacne, maka bisa mencegahnya dengan mengatur pola makan seperti:

  1. Mengurangi asupan gula, karena gula sudah terbukti memiliki potensi meningkatkan masalah jerawat.
  2. Menghindari makanan produk hewani seperti susu, karena hormon yang terkandung di dalamnya bisa meningkatkan jerawat.
  3. Menambahkan porsi ikan dalam menu makanan, karena sebagian besar ikan mengandung omega 3 yang penting untuk kesehatan kulit dan membantu mengurangi jerawat.

www.detik.com


 Page 5 of 23  « First  ... « 3  4  5  6  7 » ...  Last » 
Tweeter button Facebook button Myspace button Digg button Flickr button
SEO Powered By SEOPressor